<h1>Misi Penyelamatan "Pak Kumis" di Atap Rumah</h1>
<p>Siang itu seharusnya menjadi siang yang tenang bagi saya. Saya baru saja menyeduh kopi dan bersiap menikmati buku di teras, sampai tiba-tiba suara jeritan Bu RT memecah keheningan kompleks. "Pak Kumis! Pak Kumis di atas!"</p>
<p>Saya, sebagai pria yang ingin dianggap sebagai tetangga yang suportif, langsung berlari ke halaman depan. Ternyata, "Pak Kumis" adalah kucing kesayangan Bu RT yang sedang mematung di pucuk genteng rumah saya yang cukup curam. Kucing itu tidak mengeong, tidak bergerak, dia hanya menatap saya dengan tatapan yang seolah-olah bertanya, "Kenapa kamu belum punya tangga yang panjang?"</p>
<p>Tanpa berpikir panjang dan tanpa pemanasan, saya mengambil tangga aluminium milik Pak Haji sebelah. Saya memanjat dengan gagah, meski jujur saja, lutut saya sudah mulai bergetar saat sampai di ketinggian tiga meter. Saat saya hampir mencapai puncak, tiba-tiba tetangga dari blok seberang keluar membawa kamera ponsel, lalu disusul tukang bakso yang berhenti mendadak.</p>
<p>Tiba-tiba, misi penyelamatan ini berubah menjadi acara *live streaming* dadakan bagi warga kompleks.</p>
<p>"Ayo Mas, tarik pelan-pelan!" teriak seseorang dari bawah. "Jangan sampai jatuh, itu kucing harga jutaan!" tambah yang lain.</p>
<p>Tekanan semakin tinggi. Saya akhirnya sampai di atap. Saya merayap pelan-pelan ke arah Pak Kumis. Namun, tepat saat tangan saya hampir menyentuh tengkuknya, kucing itu malah menoleh, menguap lebar, lalu dengan santainya berjalan santai meniti kabel listrik dan melompat ke pohon mangga di rumah sebelah dengan sangat anggun.</p>
<p>Saya terduduk lemas di atas genteng, napas terengah-engah, dengan keringat bercucuran. Saya baru saja mempertaruhkan nyawa untuk seekor kucing yang ternyata lebih atletis dari saya.</p>
<p>Tiba-tiba, dari arah bawah, terdengar suara keributan yang berbeda. Istri saya keluar dari rumah dengan wajah bingung, melihat kerumunan orang yang menunjuk-nunjuk ke arah atap.</p>
<p>"Mas!" teriak istri saya. "Ngapain kamu di atas sana pakai daster saya?"</p>
<p>Saya membeku. Saya menunduk, dan baru sadar bahwa karena terburu-buru tadi, saya tidak sengaja menyambar kain panjang yang saya pikir sarung di dekat pintu, padahal itu adalah daster bermotif bunga matahari milik istri saya yang baru selesai dicuci.</p>
<p>Seketika itu juga, tawa pecah dari bawah. Tukang bakso tertawa sampai mangkoknya goyang, Bu RT menutup mulutnya dengan syal, dan para warga mulai merekam kejadian memalukan itu dengan ponsel mereka. Saya yakin, video "Pria Berdaster Menyelamatkan Kucing" akan menjadi tren di grup WhatsApp RT sore ini.</p>
<p>Saya tidak punya pilihan lain. Dengan sisa harga diri yang ada, saya turun dari atap dengan langkah tegap, mengabaikan teriakan, "Mantap Mas model barunya!", sambil tetap berusaha menutupi motif bunga matahari di kain yang saya pakai.</p>
<p>Sejak hari itu, saya resmi pensiun dari segala kegiatan sosial yang berhubungan dengan ketinggian. Dan setiap kali saya bertemu dengan Pak Kumis di jalan, kucing itu pasti menatap saya dengan tatapan yang seolah-olah mengejek, "Daster yang bagus, Mas."</p>
<p>Pelajaran hari ini: Selalu cek apa yang kamu pakai sebelum keluar rumah, terutama saat sedang dalam misi heroik.</p>
Misi Penyelamatan "Pak Kumis" di Atap Rumah